Ramalan Jawa Sunan Kalijaga Tentang Datangnya Hari Kiamat – Ramalan adalah sebuah gambaran prediksi masa depan yang dilakukan bukan sembarang orang. Perlu adanya kemampuan luar biasa, adanya energi spiritual dan adanya izin Tuhan untuk memprediksi kejadian di masa depan. Apalagi ramalan tentang hari kiamat. Wali-wali dan para ulama pasti selalu mengingatkan agar kita sebagai seorang manusia harus siap menghadapi hari kiamat. Menyiapkan amalan kebaikan menghadapi kiamat nanti. Lalu, bagaimana ramalan Jawa tentang adanya kiamat? Kapan kira-kira hari akhir zaman ini terjadi?

Kanjeng Sunan Kalijaga telah melakukan ramalan hari kiamat dengan menggunakan teknik ramalan jawa. Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai wali Allah penyebar agama Islam dengan keseniannya ini berhasil menyusun sebuah pandangan masa depan tentang hari akhir zaman. Sunan Kalijaga menyampaikan ramalan Jawa tentang kiamat ini melalui sebuah pesan. Bagaimana pesan beliau tentang hari kiamat? Berikut ulasannya untuk anda bersama Kang Masrukhan, pakar ilmu spiritual.

Kang Masrukhan ceritakan Pesan Kanjeng Sunan dalam Ramalan Jawa Hari Kiamat

Kanjeng Sunan Kalijaga adalah waliyullah yang dikenal sebagai seorang penyair atau sastrawanb hebat. Beliau menyampaikan pesan ramalan hari kiamat dalam syairnya yang berbunyi : Yen pasar ilang kumandange, Yen kali wis ilang kedunge, Yen wong wadon wis ilang wirange, Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori,, Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi, Golek wisik songko Sang Hyang Widhi”, Jelas Kang Masrukhan.

Ada isyarat yang mendalam dalam pesan ramalan Jawa Kanjeng Sunan Kalijaga yang artinya adalah sebagai berikut :

Masing-masing kalimat punya arti itu ramalan Sunan Kalijaga. Yang pertama adalah Yen pasar ilang kumandange artinya jika ada pasar yang mulai hening, perdagangan pasar tradisional sudah tidak ada jadi mall dan swalayan. Itu salah satu tandanya. Karena hubungan sosial sudah tidak ada lagi”, ungkap Kang Masrukhan.

Begitu banyak pasar online, mall dan swalayan yang berdiri sehingga pasar tradisional tidak difungsikan lagi. Padahal orang-orang tua di tanah Jawa ini dahulunya semua pasar memakai sistem tawar menawar (ijab qabul), sehingga suaranya begitu keras terdengar dari kejauhan seperti suara lebah yang mendengung. Kehidupan bersosial yang tinggi di masyarakat sekarang sudah mulai menghilang. Datang ke mall atau swalayan membuat kita tidak saling kenal dengan pengunjung atau para pelayan dan cashier di tempat itu. Jadi maksud dari ramalan Jawa sunan Kalijaga ini adalah jika tidak ada lagi sosialisasi antar manusia.

“Kedua, makna dari ‘Yen kali wis ilang kedunge’ yaitu jika sungai-sungai itu sudah mulai dangkal. Sumber air kering, tak ada air bersih lagi orang kepanasan, air keruh dimana-mana. Tapi ini mengandung makna dalam, bukan makna sebenarnya. Artinya ramalan Jawa ini adalah jika para ulama, orang berilmu sudah wafat maka tak ada lagi ilmu yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Tak ada lagi ilmu yang bisa digunakan sebagai bekal hidup manusia”, jelas Kang Masrukhan.

Akan banyak orang tak berilmu menjadi pemimpin agama dan dimintai fatwa. Hal ini akan menjadi tanda bahwa dunia mau dikiamatkan oleh Allah SWT. Ulama ditamsilkan seperti air yang menghidupkan hati-hati manusia yang gelap tanpa cahaya hidayah.

“Ketiga, arti dari “Yen wong wadon wis ilang wirange” adalah banyak wanita yang tak punya malu. Banyak itu tandanya sudah terlihat. Pakaiannya tidak dikendalikan, mereka menjadi wanita “maaf’ tuna susila. Ya kan? Panggung hiburan begitu mengerikan”, kata Kang Masrukhan.

Banyak wanita tak mau lagi mengenakan hijab atau kerudung, mereka lebih suka berpakaian minim, fulgar dan seksi kemudian berfoto ria dan menguploadnya di media sosial hingga viral di berbagai media. Bahkan tak jarang mereka menceritakan aib keluarga ke banyak orang melalaui media tersebut.

“Keempat, kalimat “Mlakuho topo lelono njajah deso milang kori”. Hal ini berarti Berjalanlah bertapa lelana. Ramaln Jawa ini memiliki makna bermujahadah, susah payah dalam perjalanan rohani, spiritual (suluk), riyadlah atau perjalanan fi sabilillah. Orang yang mau mengasah energi spiritual dan mendekatkan diri kepada Allah lah yang akan selamat di hari kiamat. Lalu saya lanjut ya, yang kelima “Ojo nganti/ngasi bali yen durung bali patang sasi” Jangan pulang sebelum kembali 4 bulan/masa”, tutur Kang Masrukhan.

Kang Masrukhan juga menjelaskan pada kalimat terakhir yang berbunyi “Golek wisik songko sang Hyang Widhi” yang bermakna Mencari petunjuk, ilham, hidayah dan kepahaman ruhani dari Dzat yang Maha Esa. Orang yang mau melakukan hal tersebutlah yang akan selamat dalam hari kiamat, dia yang akan ditempatkan di surga dan mendapatkan cahaya dari Allah SWT.

Ramalan Jawa Sunan Kalijaga ini sekaligus menjadi pesan bagi anak manusia agar senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjadikan iman, spiritual dan ketaqwaan sebagai pegangan dalam menghadapi hari kiamat.

 

3,079 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Incoming search terms:

  • ramalan sunan kalijaga
  • https://www majalahparanormal com/ramalan-jawa-sunan-kalijaga-tentang-datangnya-hari-kiamat/
  • ramalan sunan
  • pesan sunan kalijaga tentang hari kiamat
  • pesan sunan
  • ramalan sunan kali jaga
  • rsmalan sunan kalijogo tentang indonesia
  • ramalan sunan kaalijaga
  • ramalan sunan kaliiaga
  • ramalan mbah mijan tentang kiamat
  • ramalan kali jaga
  • ramalan jawa tentang kiamat
  • prediksi ramalan sunan kalijaga
  • prediksi masa depan oleh sunan kalijaga
  • pesan sunan kalijaga bkaitan akhir zaman
  • masa depan jawa menurut sunan kalijaga com
  • mantra untuk manusia bertapa sunan kalijaga
  • kali ilang kedunge pasar ilang kumandange kenapa
  • jawa tentang kiamat
  • yen kali ilang kedunge

Comments

comments