Rahasia Besar Dibalik Ilmu Penggandaan Uang Dimas Kanjeng Taat Pribadi – Masih belum tuntas perkara yang dialami oleh Kiyai Dimas Kanjeng Taat Pribadi atas segala kasus yang menimpa dirinya di pertengahan bulan September lalu. Kasus pembunuhan dan penggandaan uang yang dilakukan Taat pribadi atas nama Padepokan Dimas Kanjeng yang dipimpinnya memang mengundang banyak polemik di masyarakat. Sebuah padepokan yang berdiri di kota Probolinggo Jawa Timur ini begitu ramai dikunjungi banyak orang, mulai dari para santri yang mengaku sebagai pengikut Dimas Kanjeng Taat pribadi hingga jajaran polisi keamanan yang hendak mengamankan kawasan padepokan tersebut.

Sebuah fenomena penggandaan uang kini memang sedang marak didiskusikan baik oleh masyarakat biasa hingga tokoh pemuka agama. MUI pun mengatakan bahwa ada sebuah ajaran sesat yang disebar luaskan oleh padepokan Dimas Kanjeng melalui ajaran sholawat fulus hingga gerakan solat yang tidak ada dalam ajaran ISLAM dan anjuran RASULULLAH SAW.

Kasus Penggandaan Uang, apa kekuatan besar di belakangnya?

Melakukan penggandaan uang tentu tidak mudah, meski kasus ini dianggap sebagai penipuan namun tentunya ada sebuah kekuatan di belakangnya. Pada awalnya, di padepokan Dimas Kanjeng ini tak pernah ada acara pengajian dan acara Istighotsah seperti yang diajarkan untuk mendatangkan uang. Lama-kelamaan, setelah santri dan para pengikutnya banyak, maka disana diadakanlah pengajian. Kebanyakan santri yang datang bukannya menimba ilmu hikmah atau ilmu spiritual, namun ingin mencari kedamaian dalam hidupnya. Karena itu, yang datang pun punya latar belakang dan usia yang beragam.

Kedamaian hidup disini termasuk dalam hal mencari uang dan menutup hutang yang teramat banyak. Bahkan santri di padepokan tersebut ada yang berasal dari kalangan non muslim. Sorotan utamanya memang bukan pada ajaran apa yang disebarkan di padepokan itu, melainkan kasus penggandaan uang. Namun, lama-lama melihat keganjalan yang ada disana tentang ajaran ISLAM maka para tokoh dan pemuka Agama pun turut angkat bicara.

Dalam berbagai kesempatan dan di berbagai unggahan video di Youtube berdurasi singkat, Taat Pribadi memamerkan keahliannya yang bisa menggandakan uang. Inilah yang kini menjadi salah satu bidikan perhatian utama masyarakat. Dan menjadi kajian di kalangan Orang Ahli ilmu Spiritual dan Supranatural.

Kekuatan di Balik Padepokan Penggandaan Uang

Begitu kuat keberadaan padepokan Dimas Kanjeng sehingga anggota TNI sekalipun bisa menjadi anak buahnya / santrinya. Anehnya,  terdapat pada motivasi para santri untuk menjadi anggota padepokan. Pada umumnya, santri-santri ini bergabung karena ingin kehidupannya berubah menjadi lebih baik, lebih sukses, lebih makmur, lebih sejahtera dan tentunya lebih kaya dari sebelumnya dengan cara penggandaan uang ini. Setelah bergabung menjadi santri di padepokan Dimas Kanjeng, mereka semua berharap agar uang mereka sewaktu-waktu bisa menjadi gunungan harta dan uang yang melimpah. Para santri tersbeut saat awal masuk menjadi anggota harus menyetorkan uang terlebih dulu dengan besaran sekitar Rp 5 juta rupiah. Dalam waktu lima tahun, uang itu akan bisa berubah menjadi Rp 50 juta. Itulah janji sang dukun palsu Taat Pribadi.

Benarkah demikian? Apakah dengan tanpa melakukan usaha lahir serta merta uang kita bisa berubah menjadi gunungan uang? Memang, sebagian dari kita mengenal adanya ilmu supranatural yang berbau mistis. Bahkan masih teringat akan kasus Ponari, seorang anak kecil dengan kemampuan pengobatan yang tinggi hanya dengan menggunakan sarana batu akik. Aneh, tapi memang itulah kenyataannya. Lalu kini kita dihadapkan pada kasus penggandaan uang. Ini penipuan ataukah nyata?

Salah satu hal yang mencengangkan banyak pihak adalah keberadaan Dr. Marwah Daud Ibrahim sebagai ketua yayasan. Marwah merupakan intelektual yang lulus S2 dan S3 dari Amerika Serikat. Dua kali Marwah menjadi siswa teladan yaitu saat menjelang lulus SPG di Makassar dan ketika beliau menjadi mahasiswa komunikasi Universitas Hasanuddin, kota Makassar. Marwah berkarier di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai pegawai negeri. Ia juga aktif di Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Namun, beliau pun bisa bergabung dalam padepokan Dimas Kanjeng. Begitu luar biasanya kekuatan dibalik padepokan penggandaan uang ini. Hal ini membuat kita berpikir, apakah uang memang satu-satunya senjata yang bisa membuat manusia tergiur akan keduniawian? Ya, itulah nyatanya. Itulah faktanya. Mungkin Marwah memiliki pemikiran yang menjadi alasannya bergabung dengan Taat Pribadi. Ia punya alasan tersendiri yang dianggapnya rasional. Mungkin kita perlu menghargai pandangan Marwah tentang ajaran Taat Pribadi. Biarlah dia beranggapan ajaran itu benar, sekalipun dia mengakui Taat Pribadi tak bisa membaca Alquran dan MUI pun mengindikasikan ajaran sesat dan melanggar aturan dalam ajaran Islam.

Waallahualam. Begitu besarnya ajaran sesat yang membuat manusia tergiur akan keduniawian, bagaimana dengan anda? Apakah anda masih menganggap bahwa ajaran tersebut rasional? Yang pasti satu hal yang harus anda ingat bahwa tak ada hal dapat membuahkan hasil tanpa usaha nyata, usaha lahir dan batin.

Semoga bermanfaat untuk anda, BARAKALLAH

 

1,401 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Comments

comments