Pulau Nusakambangan, Pulau Kematian Yang Menyeramkan

Pulau Nusakambangan, Pulau Kematian Yang Menyeramkan

Pulau Nusakambangan, Pulau Kematian Yang Menyeramkan – Mendengar kata Nusakambangan pastinya sudah bergidik ngeri. Pulau seram di lepas pantai wilayah Cilacap, Jawa Tengah, tersebut sudah sangat terkenal sebagai pulau pesakitan bagi para narapidana kelas kakap yang sudah divonis mati oleh pengadilan. Nusakambangan adalah tempat para narapidana menanti ajal, ratusan hingga ribuan narapidana hidupnya berakhir di pulau ini. Maka tak heran jika Nusakambangan juga mendapat julukan pulau kematian.

Mendengar kata kematian saja sudah barang tentu sangat menyeramkan. Betapa tidak, para narapidana yang sudah divonis mati akan menjalani serangkain penantian penuh kesedihan dan detik-detik kematian yang sangat menyakitkan. Penjara Nusakambangan menjadi penjara eksklusif yang hanya dihuni oleh narapidana dengan kejahatan tingkat tinggi, seperti kejahatan narkoba, pembunuhan, hingga terorisme. Tak sembarang orang boleh memasuki area ini, perlu ijin khusus untuk berkunjung ke Nusakambangan. Penjagaan super ketat yang dilengkapi dengan sensor gerak dan CCTV, cukup membuat para narapidana dijamin tak bisa kabur dari tempat ini. Mereka akan menunggu kematian yang menyakitkan, dan eksekusi mati yang menyeramkan. Berikut kisah Pulau Nuskambangan, pulau kematian yang menyeramkan.

Cerita Terkait : 


Pulau Nusakambangan, Pulau Kematian Yang Menyeramkan

Kisah mistis pulau penjara peninggalan Belanda ini sudah sangat santer terdengar. Setiap sudut pulau terlihat sangat menyeramkan dan menyimpan aura negatif yang sangat kuat. Kisah misteri yang menyeramkan ini berkaitan erat dengan para narapidana yang meregang nyawa di tempat ini. Sebelum narapidana di eksekusi, ada tahapan proses yang harus dijalani. Sebelum narapidana ditempatkan di ruang isolasi, ia akan diberitahu kapan waktu eksekusi. Biasanya 72 jam sebelum eksekusi dilakukan. Setiap narapidana akan diminta mengajukan tiga permintaan terakhir. Saat inilah, biasanya nyali narapidana menciut penuh ketakutan dan butuh bimbingan keagamaan.

Berdasarkan penuturan mantan eksekutor Nusakambangan, eksekusi dilakukan oleh regu tembak yang berjumlah 12 orang penembak terlatih dan 2 orang tambahan siap siaga dengan fisik dan mental yang harus kuat.  Para narapidana akan diikat di tiang pancang eksekusi dan ditutup matanya. Mereka diberikan pilihan untuk duduk, berdiri atau berlutut saat eksekusi. Para penembak akan menembak secara bersamaan tepat lurus kea rah jantung narapidana. Hanya tiga senapan yang terisi peluru, sedangkan Sembilan senapan lain berisi peluru hampa. Narapidana harus mati dalam waktu satu menit. Jika tidak segera mati, maka para penembak akan menembak kepala tepat di atas telinga hinga menembus bagian dalam.

Eksekusi sendiri dilakukan di Bukit Nirbaya, sebuah tempat kosong nan sunyi di Pulau Nusakambangan. Tak hanya digunakan sebagai lokasi eksekusi, tempat ini juga digunakan sebagai kuburan massal bagi narapidana, terutama bagi mereka yang tak diambil dan tak diakui keluarganya. Sebagai lokasi peninggalan Belanda jaman dulu, Bukit Nirbaya sangat dipercaya dihuni oleh para arwah maupun makhluk halus lainnya.

Begitulah kisah Pulau Nuskambangan, pulau kematian yang menyeramkan. Teriring gemuruh suara deburan ombak laut memecah sunyi, terbayang bagaimana detik-detik para narapidana menjemput mati. Ngeri.

128 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Comments

comments