Kisah Cinta Tragis Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku

Dewi Nawangsih dan Bagus Rinangku

Kisah Cinta Tragis Raden Ayu Dewi Nawangsih Dan Raden Bagus Rinangku –  Berbicara masalah cinta tentu langsung terbayang sesuatu yang indah dan membahagiakan. Cinta adalah ikatan batin terkuat disertai rasa kasih sayang, sehingga siapa pun yang merasakan cinta akan melakukan apapun dan berkorban segalanya demi orang yang dicintainya. Mereka rela mati demi membuktikan bahwa cinta mereka suci. Setiap orang menginginkan cintanya berakhir dengan bahagia, tapi tak jarang justru malah berakhir tragis penuh rasa kecewa.

Terlalu banyak kisah cinta romantis nan tragis, seperti dalam kisah cinta Rade Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Kisah folklore dari Kabupaten Kudus tersebut membuktikan bahwa cinta suci akan terbawa sampai mati. Berikut kisah cinta tragis Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.

Kisah Cinta Tragis Raden Ayu Dewi Nawangsih Dan Raden Bagus Rinangku

Kisah ini dipercaya terjadi pada masa kewalian Sunan Muria. Sebagai wali penyebar agama Islam sekaligus guru, Sunan Muria mempunyai banyak murid dari berbagai daerah untuk menimba ilmu. Dikisahkan, Sunan Muria mempunyai seorang putri cantik jelita bernama Raden Ayu Dewi Nawangsih. Kecantikan Sang Dewi ternyata membuat salah satu murid Sunan Muria, putra Sultan Agung dari Mataram bernama Raden Bagus Rinangku. Diam-diam mereka menjalin hubungan asmara tanpa diketahui Sunan Muria, meskipun Raden Ayu Dewi Nawangsih sudah dijodohkan dengan salah seorang murid padepokan oleh Sunan Muria. Tetapi Raden Ayu Dewi Nawangsih tidak mau.

Pada suatu hari, Raden Bagus Rinangku diberi perintah oleh Sunan Muria menjaga sawah dengan padi yang sudah menguning siap panen di daerah Masin. Hamparan padi yang menguning tersebut membuat rombongan burung menyerbu dan memakan seluruh bulir padi siap panen hinggga menyisakan batang-batang jerami saja. Raden Bagus Rinangku membiarkan saja burung-burung memakan padi Sunan Muria karena merasa bahwa mereka juga makhluk Tuhan yang harus diberi makan.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan kepada Sunan Muria. Seketika Sunan Muria marah pada Raden Bagus Rinangku. Kemudian, Raden Bagus Rinangku kembali ke sawah dan mengembalikan seluruh bulir padi yang dimakan burung seperti semula. Tak lupa ia sampaikan juga kepada Raden Ayu Dewi Nawangsih bahwa bulir-bulir padi tersebut tidak dimakan burung. Ia pun meyakinkan ayahnya tentang apa yang disampaikan Raden Bagus Rinangku.

Maka, Sunan Muria pergi ke sawah dan mendapati bulir-bulir padi masih utuh seperti yang disampaikan Raden Bagus Rinangku dan putrinya. Sunan Muria merasa dibohongi. Disisi lain, Raden Bagus Rinangku dirasa lancang telah berani menjajal ilmu Sunan Muria. Dengan penuh rasa kecewa dan marah, dari puncak Gunung Muria ia melepaskan busur panah yang tertuju pada Raden Bagus Rinangku. Panah menembus dada Raden Bagus Rinangku dan membuat ia tewas seketika. Kabar tewasnya Raden Bagus Rinangku membuat Raden Ayu Dewi Nawangsih sangat sedih. Ia menemui mayat kekasih hatinya dengan anak panah masih menancap di dadanya. Karena rasa cintanya yang mendalam, maka ia pun menyusul Raden Bagus Rinangku dengan menimpangi anak panah ke tubuhnya, hingga keduanya tewas dalam satu anak panah.

Sunan Muria yang mendengar kabar tersebut segera menuju ke tempat mereka meregang nyawa diiringi para murid pengiringnya. Melihat pengiringnya hanya diam terpaku tak berbuat apa-apa karena takut, maka keluarlah sabda Sunan Muria, ‘’Kenapa kalian diam? Seperti pohon jati saja’’. Maka seketika mereka berubah jadi pohon jati yang dikenal dengan nama ‘jati masin’.

Raden Bagus Rinangku dan Raden Ayu Dewi Nawangsih dimakamnya dalam satu liang lahat di daerah pegunungan Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, dikelilingi pohon-pohon jati yang konon jelmaan dari murid pengiring yang dikutuk Sunan Muria. Sebagai situs sejarah kuno, tempat ini masih dikeramatkan dan diziarahi untuk ritual tertentu. Setiap malam Jum’at Wage, para peziarah ngalap berkah pada Raden Bagus Rinangku dan Raden Ayu Dewi Nawangsih agar rejeki lancar, usaha berhasil, hingga jabatan dan posisi pekerjaan.

Para peziarah biasanya memberikan persembahan berupa makanan, seperti ingkung atau ayam masak utuh, tumpeng, ikan asin, aneka masakan dan hasil pertanian sebagai syarat kesempurnaan hajad. Selain itu terdapat larangan menebang pohon di sekitar lokasi makam, jika melanggar diyakini akan terjadi sesuatu yang tak diingkan.


Kisah Menarik Lainnya : 


Demikian kisah cinta tragis Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Semoga menginspirasi. Barakallah

161 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Comments

comments