Gerhana Dan Kisah Bathara Kala, Sebuah Mitos Kuno

Mitos Gerhana Dan Kisah Bathara Kala

Gerhana Dan Kisah Bathara Kala, Sebuah Mitos Kuno – Alam semesta dengan segala fenomenanya merupakan tanda-tanda kebesaran Tuhan YME. Berbagai kejadian di alam semesta tak terlepas dari kuasa Tuhan Yang Maha Sempurna. Salah satu fenomena alam yang biasa terjadi adalah adanya gerhana bulan dan matahari. Gerhana adalah fenomena alam yang lumrah terjadi, bahkan para ahli astronomi bisa memperhitungkan secara matematis kapan akan terjadi gerhana. Berbeda dari pandangan ilmiah, fenomena gerhana matahari dan bulan bagi masyarakat dari berbagai belahan dunia terutama Jawa dimaknai sebagai peristiwa yang penuh cerita mitos. Berikut mitos gerhana dan kisah Bathara Kala.

Gerhana Dan Kisah Bathara Kala, Sebuah Mitos Kuno

Bathara Kala

Kepercayaan Jawa kuno terkait fenomena alam yang terjadi selalu dihubungkan dengan kekuatan supranatural di luar jangkauan manusia. Mereka percaya dengan keberadaan para dewa, roh-roh leluhur, kekuatan gaib, hingga benda-benda bertuah yang mempunyai kekuatan tertentu. Fenomena gerhana bulan dan matahari, misalnya. Mereka meyakini bahwa fenomena tersebut tidak sekadar peristiwa alam semata, melainkan perbuatan Bathara Kala memakan bulan dan matahari.

Dalam dunia pewayangan, Bathara Kala dikenal sebagai sosok raksasa mengerikan dan menakutkan, bertubuh sangat besar, bertaring, bermata besar, berambut gondrong tak teratur, dan pemakan manusia. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, anak dengan kriteria tertentu bisa menjadi santapan Bathara Kala jika tidak diruwat.

Bathara kala sebenarnya adalah putra dari Bathara Guru dan Bethari Uma. Lahirnya Bathara Kala bermula ketika Bathara Guru dan Bethari Uma bercinta di atas punggung tunggangan berwujud Lembu Andini. Ketika bercinta, tanpa disadari ‘kama’ atau benih kehidupan menetes ke samudara dan seketika berwujud menjadi raksasa bernama Bathara Kala. Sesampainya di kahyangan, marahlah Bathara Guru karena menyadari perbuatan yang telah mereka lakukan sangatlah nista seperti raksasa. Maka, keluarlah sumpah serapah dan kutukan kepada Bathari Uma. Seketika Bathari Uma berubah wujud menjadi raksasa perempuan bernama Bathari Durga. Ia diusir dari kahyangan dan diberi tempat dimana para lelembut, setan, dan segala makhluk gaib tinggal bernama Setra Gandamayit artinya hutan dengan bau mayat. Ia tinggal bersama Bathara Kala, yang  di kemudian hari menjadi pasangannya.

Bathara Kala dan Bathari Durga akhirnya menaruh dendam kepada para dewa dan manusia atas kesengsaraan yang mereka rasakan. Mereka selalu membuat onar dan kekacauan agar kayangan dan alam manusia tidak aman.


Tulisan Terkait : 


Mitos Gerhana

Kisah gerhana dalam mitos bermula ketika kayanagn digegerkan dengan hilangnya guci berisi air kehidupan bernama Tirta Amertasari milik Bathara Guru. Siapa yang berhasil meminum air tersebut, maka ia bisa hidup abadi tanpa pernah bisa mati. Hilangnya Tirta Amertasari ternyata dicuri oleh Bathara Kala yang waktu itu menyamar sebagai dewa diketahui oleh Bathara Surya (Dewa Matahari) dan Bathara Chandra (Dewa Bulan) dan dilaporkan kepada Bathara Wisnu. Dengan senjata cakra, ia menebas leher Bathara Kala yang saat itu sedang meminum Tirta Amertasari sampai di tenggorokan. Kepala Bathara Kala masih utuh dan tetap hidup, sedangkan tubuhnya jatuh ke bumi berubah menjadi lesung.

Dendam Bathara Kala kepada Bathara Surya dan Bathara Chandra membuatnya selalu berusaha memakan matahari dan bulan sebagai lambang kedua dewa tersebut. Sehingga muncul kepercayaan bahwa saat gerhana, matahari dan bulan sedang dimakan Bathara Kala.

Saat gerhana dan bumi menjadi gelap, manusia diliputi rasa takut akan keberadaan Bathara Kala. Berdasarkan kepercayaan masyarakat, saat gerhana menjelang maka wanita-wanita hamil harus disembunyikan agar bayi dan ibunya selamat serta terhindar dari segala gangguan Bathara Kala. Masayarakat juga diminta menjaga kebun dan ternak mereka saat gerhana terjadi. Sementara area persawahan dan perkebunan harus selalu disiram agar tak gagal panen.

Untuk itulah, masyarakat harus membuat gerhana cepat berlalu dengan cara memukul lesung atau kentongan untuk membuat keramaian agar Bathara Kala memuntahkan kembali matahari dan bulan yang ditelannya.

Demikian cerita mitos gerhana dan kisah Bathara Kala. Semoga Anda dan seluruh masyarakat terhindar dari gangguan Bathara Kala. Aamiin Ya Rabbal A’lamin.

147 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Comments

comments