Fenomena Azimat di Kalangan Masyarakat, Halal atau Haram? – Jaman modern bukan suatu halangan untuk masyarakat mempercayai kekuatan magis. Karena tak semua hal di dunia ini mampu dipikir manusia dengan logika. Kekuatan gaib bukan berarti kekuatan setan, tapi kekuatan yang tidak dapat dinalar oleh manusia dan juga tak nampak oleh mata manusia. Kekuatan gaib termasuk kekuatan Tuhan di dalamnya. Jual-beli akan bernilai halal jika dilakukan dengan penuh rasa ikhlas di kedua belah pihak. Namun dalam permasalahan jual-beli azimat bukan menjadi tolok ukur lagi jika dinilai dari segi halal atau haramnya.

Akhlak dan kemanusiaan lah yang lebih diperhatikan. Misal ada seorang petani atau tukang becak yang ingin membeli azimat pada seorang ahli ilmu hikmah, apakah lantas sang guru hikmah tersebut tega membanderol harga yang tinggi pada sang tukang becak atau petani? Tentu tidak boleh, jangankan beli azimat bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka tentu kerepotan. Maka para guru hikmah itu memberi harga sepantasnya, sesuai kemampuan petani atau tukang becak tersebut. Bukan karena mereka butuh lantas dimanfaatkan, bukan seperti itu yang diharapkan. Lebih baik jika mereka diberikan do’a-do’a serta amalan-amalan yang harus dilakukan untuk mendapatkan Ridho dan Karunia Tuhan.

Seperti suatu kisah pada jaman nabi Muhammad SAW dulu, seorang sahabat bernama Abu Sa’id al-Kurdi yang telah menerima 30 ekor sapi dari seorang penduduk. Ceritanya ada seorang penduduk yang mengalami sakit luar biasa pada kakinya akibat gigitan ular liar. Orang sakit ini segera sembuh ketika dibacakan ayat suci al Qur’an surat Al-Fatihah oleh sahabat Rasul tersebut.

Ketika Abu Sa’id al-Kurdi menerima 30 ekor kambing sebagai upahnya tersebut para sahabat yang lain mencelanya, “Engkau mengambil upah dari membaca kitab Allah”, kata mereka. Kemudian di Madinah mereka melaporkannya kepada Rasulullah SAW, dan beliaupun bersabda, “Tidaklah engkau mengetahui bahwa Al-Fatihah adalah suatu obat. Bagikan dan berikan sebagian untukku”. Atas hadits ini maka dapat disimpulkan bahwa mengambil upah dalam penyembuhan serta menolong seseorang serta hal-hal sekitar itu adalah diperbolehkan, terbukti Rasulullah tidak melarang Abu Sa’id al-Kurdi dan justru malah meminta bagian.

Kiyai, ahli ilmu hikmah serta para tabib adalah manusia biasa yang memiliki tanggung jawab terhadap istri anak dan keluarganya sehingga jika ia menghabiskan waktunya untuk menyembuhkan orang dan memberikan pertolongan serta membagi ilmunya pada orang lain tanpa menerima imbalan hal ini tidak dibenarkan. Karena termasuk membuang waktu dan menelantarkan hidupnya serta keluarganya. Jadi dalam hal ini ayat-ayat al Qur’an boleh dan bisa dijadikan obat dan dari pekerjaan itu bisa diambil upahnya, asal sesuai kewajaran dan sesuai dengan apa yang diperbuat.

 

572 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Comments

comments