Dibalik Kisruh Kasusnya, Amien Rais Pernah Alami Kisah Spiritual Menakjubkan

kasus-amien-rais

Dibalik Kisruh Kasusnya, Amien Rais Pernah Alami Kisah Spiritual Menakjubkan – Dalam sebuah buku autobiografi Amin Rais: lnilah Jalan Hidup Saya tulisan Bagus Mustakim dan Nurhuda Kurniawan yang diterbitkan oleh penerbit lnsan Madani diceritakan salah satu kisah spiritual yang cukup menarik. Dalam buku tersebut tertulis, ketika Pak Amien sedang menghadapi masalah terkait majalah Risalah sehingga dipanggil untuk menjalani interogasi, Pak Amien mengalami keajaiban dari sebuah doa.

Hal ini bermula ketika perjalanan ke Semarang hendak menjalani interogasi, Pak Amien tidak pernah lepas dari doa yang ada dalam Surat al-isra’. Berikut ini adalah doa yang dibaca Pak Amien.

Rabbi adkhilni mudkhala shidqin wa akhrijni mukhraja shidqin waj’al Ii min ladunka sulthana al-nashiran.

Doa itu oleh Pak Amien diyakini sangat dahsyat. Karena sesampai Semarang, Pak Amien justru berani membentak para serdadu yang berjaga gardu di depan. Sambil berkacak pinggang Pak Amien bertanya, “Di mana kantor Saudara Silitonga !?” Setelah diberi tahu, dengan langkah tegap ia melangkah menuju ruang interograsi. Pintunya digedor sangat keras oleh Pak Amien, sehingga penghuninya kaget.

Diyakini berkat dari doa itu rupa-rupanya sorot mata para aparat itu menjadi redup. Dengan bergaya seorang jawa, serdadu itu membungkuk-bungkuk mempersilakan Pak Amien duduk. “Duduk? Duduk apa? Ini kan banyak kursi tolong diberi tahu kursi mana yang harus saya duduki!?” kata Amien Rais. Kemudian serdadu itu mencoba memainkan psikologi Pak Amien dengan mengatakan, “Terima kasih sudah datang. Duduk dulu. Saya akan ada keperluan di luar. Mungkin dua hingga tiga jam saya baru pulang.” Pak Amien lalu membentak, “Eh bung! Jangan main-main dengan saya! Sekarang juga harus diselesaikan apa keperluan! Karena saya jam 4 sore harus sudah berada di Yogyakarta. ” Dengan bentakan itu, serdadu itu sedikit kalah.

Dia kemudian masuk dalam ruangan khusus. Begitu duduk, Pak Amien kemudian membuka tas lalu mengaktifkan tape recorder. Serdadu itu tampak kaget dan bertanya, “Pak Amien, untuk apa Anda merekam?” Pak Amien menjawab bahwa siapa pun harus jujur dalam interogasi, jadi semua pertanyaan dan jawaban harus direkam agar di pengadilan tidak ada kebohongan. Selain itu Pak Amien punya atasan yang bernama rektor, dekan, dan juga Menteri Pendidikan, jadi, ia tidak mau dituduh subversi. Pak Amien mengatakan, entah karena daya magis doa yang dibaca tanpa henti itu, tiba-tiba serdadu yang ditugaskan menginterogasi kemudian menjadi melembek bahkan berkata, “Sudahlah Pak Amien. Kalau begitu tidak ada pertanyaan lisan. Saya kira cukup tertulis, jumlahnya 10 pertanyaan saja. ” Sesaat kemudian komandan dari petugas yang menginterogasi itu datang, dan dengan sangat santunnya berbicara halus dan mengucapkan terima kasih karena Pak Amien sudah mau mendatangi panggilan mereka. Mereka yakin kalau Pak Amien tidak bersalah sama sekali.

Pak Amien kemudian pulang dan merasa sangat bahagia. Dibandingkan teman-temannya yang “dikamu-kamukan dan dibentak-bentak” ternyata ketika berhadapan dengan Pak Amien di tempat yamg sama, dengan interogator yang sama, suasananya berubah sangat drastis. Momen kritis itu oleh Pak Amien diyakini terselesaikan dengan kekuatan doa.

Momen kritis lain adalah ketika Pak Amien sebagai staf ahli majalah Risalah mulai disidangkan di pengadilan Negeri Sleman dalam status sebagai seorang saksi, lagi-lagi untuk memperlancar proses, Pak Amien juga membaca doa sebagaimana tersebut itu berulang-ulang. Malam sebelum sidang, Pak Amien menjalankan shalat malam dan setelah itu membaca doa sebanyak-banyaknya. Beberapa pendukung Pak Amien yang menyaksikan drama satu babak ketika Pak Amien bersaksi di depan hakim Pengadilan Negeri Steman atas pertanyaan jaksa itu, mengatakan bahwa tampaknya sidang jadi berbalik. Pak Amien jadi jaksanya dan jaksanya jadi saksi.

Momen kritis lainnya lagi terjadi ketika Pak Amien menjadi ketua MPR. Pak Amien diberi tahu bahwa saat akan memimpin Sidang Umum MPR tahun 2000, akan ada hujan interupsi yang dilakukan secara sistematik, supaya Pak Amien mengalami mental breakdown. Karena akan dipermalukan sebagai ketua MPR yang tidak becus mengendalikan sidang, Pak Amien membaca beberapa surat Al Quran kemudian shalat malam, dan pergi ke gedung MPR dengan membaca doa yang menjadi andalannya.

Persis seperti yang diperkirakan, begitu Pak Amien mengucapkan salam dan selamat pagi, ada belasan tangan yang mengacungkan jari sambil meneriakkan kata interupsi . Ketika Pak Amien memelototi satu per satu, mereka kemudian duduk dan tidak menunjukkan posisi yang menantang apalagi provokatif. Dengan suara yang tenang Pak Amien mengatakan: “Saudara-saudara, tidak masuk akal kalau saya baru mengucapkan salam sudah diinterupsi . Jadi, apa yang diinterupsi. Jadi mohon tenang dulu. Anda wakil rakyat yang terhormat. Jutaan mata melihat sidang MPR kita ini. Beri kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan pokok-pokok pikiran yang akan saya sampaikan.” Setelah itu, tidak ada satu pun interupsi sampai sesi pagi itu selesai dengan baik. Banyak wartawan yang kemudian bertanya: “Pak Amien, apa rahasianya Pak Amien bisa menenangkan belasan anggota DPR yang kelihatan beringas itu?” Dengan rendah hati Pak Amien mengatakan, “Yang saya lakukan adalah memohon kepada Tuhan supaya saya bisa masuk dan keluar di tempat yang sejahtera, dan diberi kekuatan supaya bisa memenangkan langkah-langkah saya itu.”

83 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Comments

comments